Perbandingan Transaksi Kredit Murabahah dan Kredit Konvensional

4 08 2010

Akad Murabahah

Akad Murabahah adalah akad jual beli dimana penjual menyebutkan harga pokok barang dan keuntungan tertentu yang di peroleh, dan harga jual tersebut di sepakati oleh penjual dan pembeli. Pada akad ini, perbankan membeli barang dari penjual lalu menjual barang tersebut ke pembeli dengan margin(keuntungan) yang di harapkan dan di sepakati.

Dasar dalil Akad murabahah Dalil tentang jual beli dan jual beli secara tertunda (kredit) :

• (QS. Al Baqarah: 275)- ” Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.”

• (QS. Al Baqarah: 282) – “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya” . Keumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit, maka selagi jual beli kredit dilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini.

• (HR. Bukhari 2068, Muslim 1603) – Dari Aisyah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah rnembeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran tertunda. Beliau memberikan baju besi beliau kepada orang tersebut sebagai gadai” Dalil-dalil yang menunjukkan dibolehkannya memberikan tambahan harga karena penundaan pembayaran atau karena penyicilan:

  1. (Q.S. An Nisa’: 29)- “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling mernakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jaian perniagaan yang berlaku dengan suka sarna suka diantara kamu” Keumuman ayat ini mencakup jual beli kontan dan kredit, maka selagi jual beli kredit dilakukan dengan suka sama suka maka masuk dalam apa yang diperbolehkan dalam ayat ini.
  2. (HR. Bukhari 2241, Muslim 1604)- Rasulullah datang ke kota Madinah, dan saat itu penduduk Madinah melakukan jual beli buah-buahan dengan cara salam dalam jangka satu atau dua tahun, maka beliau bersabda, “Barangsiapa yang jual beli salam maka hendaklah dalam takaran yang jelas, timbangan yang jelas sampai waktu yang jelas”. Pengambilan dalil dari hadits ini, bahwa Rasulullah membolehkan jual beli salam asalkan takaran dan timbangan serta waktu pembayarannya jelas, padahal biasanya dalam jual beli salam uang untuk membeli itu lebih sedikit daripada kalau beli langsung ada barangnya. Maka begitu pula dengan jual beli kredit yang merupakan kebalikannya yaitu barang dahulu dan uang belakangan meskipun lebih banyak dari harga kontan. dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual” (HR. Ibn Majah).
  3. (HR. Ibn Majah)- Dari Suhaib al-Rumi r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda : “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual”

Syarat Akad Murabahah Syarat Akad Murabahah adalah sebagai berikut :

Subjek jual beli (Pelaku akad):

  • Sukarela (tanpa paksaan)
  • Cakap Hukum • Objek Jual beli (barang):
  • Halal
  • Membawa Kemaslahatan (bermanfaat)
  • Spesifikasi barannya sesuai dengan kesepakatan pembeli dan penjual
  • Barang yang diperjual belikan merupakan hak milik penuh yang berakad

Akad :

o Jelas subjek, objek, dan spesifikasinya

o Ijab qabul harus selaras dengan harga dan spesifikasi

o Tidak ada batasan waktu kepemilikan

Perhitungan Pembayaran Kredit dengan Akad Murabahah Dalam perhitungan pembayaran kredit dengan akad murabahah, keuntungan Bank disepakati terlebih dahulu antara pembeli dengan bank. Keuntungan tersebut biasa di sebut margin atau tambahan. Dalam istilah teknis perbankan syari’ah, murabahah ini diartikan sebagai suatu perjanjian yang disepakati antara Bank Syariah dengan nasabah, dimana Bank menyediakan pembiayaan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnya yang dibutuhkan nasabah, yang akan dibayar kembali oleh nasabah sebesar harga jual bank (harga beli bank + margin keuntungan) pada waktu yang ditetapkan. Jadi, keuntungan bank telah disepakati oleh pihak Bank dan pembeli. Contoh perhitungan angsuran murabahah :

Investasi Rp 20.000.000,00

Pembayaran Sendiri Rp 5.000.000,00

Pembiayaan Bank Rp 15.000.000,00

Margin/tahun disepakati 10% Jangka waktu 5 tahun (60 bulan)

Total margin (Rp 15.000.000 x 5 thn x 10%) Rp 7.500.000,00

Harga jual bank (Rp 15.000.000 + Rp 7.500.000)

Rp 22.500.000,00 Angsuran/ bulan (Rp 22.500.000 : 60bulan) Rp 375.000,00 2.

Kredit Barang Bank Konvensional

Kredit barang dari bank konvensional merupakan salah satu produk Perbankan konvensional yang cukup populer. Beberapa produk yang laris-manis di pasar Indonesia adalah KPR (Kredit Kepemilikan Rumah), Kredit Mobil, kredit sepeda motor, dan lain-lain. Perhitungan pembayaran kredit Bank menggunakan bunga yang menjadi keuntungan pihak bank. Pada dasarnya bunga kredit dan margin adalah sama, keduanya merupakan keuntungan dari pihak bank yang di ambil dari lebihan harga pokok barang yang diperjualbelikan. Akan tetapi, berbeda dengan Bank Syariah, Bank konvensional tidak menggunakan Bunga/Margin yang tetap tiap angsuranya. Perbankan Konvensional menggunakan Flat rate (suku bunga tetap) dan Floating rate (suku bunga tidak tetap). Suku bunga Flat rate merupakan suku bunga yang di sepakati tetap pada awal transaksi (sama seperti margin murabahah), yang jangka waktunya di tetapkan oleh bank. Biasanya bank tidak berani menetapkan Flat rate dalam jangka waktu yang lama, biasanya flat rate tersebut hanya ditetapkan 1-2 tahun. Pada tahun-tahun berikutnya, Bank akan menggunakan Floating rate yang besarnya ditentukan oleh kondisi pasar. Salah satu yang mempengaruhi. Perhitungan angsuran tiap bulan pada kredit perbankan konvensional pada dasarnya sama seperti perhitungan transaksi dengan akad murabahah pada perbankan syariah. Yang membedakan hanya dari floating rate yang belum dapat dipastikan tingkat bunganya.

Kredit perbankan Konvensional dalam Pandangan Ekonomi Syariah Seperti diterangkan sebelumnya, transaksi perkreditan pada perbankan konvensional pada dasarnya sama seperti transaksi dengan akad murabahah. Yang membedakan antara kedua transaksi tersebut hanyalah pada floating rate nya yang menyebabkan angsuran kredit tersebut manjadi tidak dapat di prediksi. Dalam konteks perekonomian islam, hal tersebut haram karena menganut konsep Gharar. Gharar merupakan suatu ketidakjelasan. Dalam hal ini, penetapan floating rate menyebabkan ketidakjelasan pada penentuan pembayaran kredit dan penentuan total biaya yang di keluarkan oleh pihak pembeli. Penetapan floating rate ini dapat menyebabkan bunga kredit menjadi lebih besar atau lebih kecil pada tiap bulan pembayarannya. Penetapan floating rate ini sering kali juga merugikan pembeli karena kenaikan bunga kredit. Kenaikan ini sangat di pengaruhi BI rate. BI rate saat ini (juni 2010) memang cenderung stabil pada tingkat 6,5%(lihat tabel BI rate di bawah). Akan tetapi, tingkat ini dapat berubah pada tahun atau bahkan bulan yang akan datang, terlebih lagi dengan tingkat yang terglolong rendah ini, sehingga kemungkina besar perubaha BI rate adalah perubahan kenaikan BI rate. Penetapan floating rate memang diharamkan dalam konteks perekonomian Islam. Akan tetapi, perkreditan barang dalam perbankan Konvensional tidak dapat sepenuhnya diharamkan karena konsep bunga dalam fix rate kredit barang konvensional sama dengan margin pada akad murabahah. Jadi, penggunaan kredit barang konvensional tidak dapat di haramkan secara transaksi apabila kredit tersebut tidak menggunakan floating rate. Hal itu mungkin saja terjadi apa bila jangka waktu kredit barang tersebut tergolong rendah, misalnya 1-2 tahun.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: