Dibalik Tumpukan Koran

31 05 2010

Siang begitu terik. Diamping gedung Unpad Dipatiukur,pada Sepanjang jalan Hasanudin, mahasiswa Unpad betebaran di tenda-tenda warung makan yang merupakan salah satu lokasi makan siang favorit mahasiswa Unpad. Kendaraan bermotor berlalu-lalang di sepanjang jalan itu. Tenda-tenda disamping jalan yang bertuliskan Soto Ayam, Ayam gila, nasi goreng kambing, dan lain-lain, seolah memanggil mahasiswa untuk mengisi perut di Siang itu. Para mahasiswa didalam tenda-tenda itu makan sambil bercengkrama, dengan di temani minuman dingin yang menyegarkan. Mahasiswa tersebut seolah lupa bahwa di luar tenda itu begitu panas. Ya, begitulah keadaan jalan Hasanudin Bandung di hari kuliah mahasiswa di tengah aktivitas mahasiswa yang cukup padat.

Akan tetapi, ada hal yang cukup menyentil hati. Pria muda berbaju lusuh menyulurkan tangan sembari memasang wajah sulit dan meminta-minta pelanggan di tenda-tenda tersebut. Pria yang masih muda dan kuat itu cukup mengherankan. Ia muda dan kuat, “lalu mengapa meminta? Mengapa memasang wajah sulit? BEGITU SULITKAH HIDUP?” Aku hanya terrenyuh dan mebanyangkan apabila aku adalah dia.

Tak lama terdengar, “koran, koran”. Ternyata suara itu keluar dari mulut seorang laki-laki tua penjual koran keliling. Ia membawa koran dalam jumlah yang cukup banyak dengan menggunakan tas loper koran dan di sangkutkan di ubun-ubun kepala. Bapak tua ini juga cukup mengherankan. Ia menawarkan korannya dengan tersenyum dan ramah seolah tidak ada kepedihan dalam menjalani hidupnya. Raut wajah yang penuh keriput tak menggambarkan ke letihan. Wajahnya seperti bercahaya dan membuat pelanggan-pelanggannya ikut tersenyum. Ketika aku melihatnya, seolah pertanyaan yang muncul ketika aku melihat pria muda yang datang sebelumnya terjawab. “BEGITU SULITKAH HIDUP?” jawabannya TIDAK.

Mahasiswa Unpad sudah tidak asing dengan wajah bapak yang satu ini. Dia adalah Muhammad Senen. Ia berumur sekitar 55 tahun. Bapak dua anak ini merupakan perantau dari palembang, Kabupaten (Lumpuk Linggau). ia merantau dari palembang ke bandung pada tahun 2003 bersama seorang istri dan dua orang anak. Tanpa bermodalkan materi apa-apa, ia memberanikan diri untuk merantau. Kini, ia adalah seorang single parents, karena istrinya telah berpulang ke rahmatullah pada Bulan Ramadhan tahun 2009 M.

“Seperti kata orang Surabaya aja dik, bonek (bondo’ nekat)” celetuk Pak Senen sambil tertawa ringan mengomentari ke nekatannya untuk merantau. “Tapi nggak cuman nekat, tapi juga jujur. Mari kita lihat batang pohon. kalau batang itu lurus, tinggi batang itu. Kalau nggak mau lurus, bengkok, maka pendek batang itu. Jadi, kalau mau tinggi harus lurus.”

Ia menjalani hari-harinya diawali dengan Shalat subuh, lalu meninggalkan rumahnya di Cicaheum untuk berjualan koran di pasar Suci dengan naik angkot. Setelah itu ia berjalan kaki ke sekitar Unpad, gedung Telkom, dan sekitarnya. Jarak itu cukup jauh untuk orang se tua dia. “Jalan kaki? Lumayan Jauh juga y pak? tanyaku.

“Ya bagus lah dik jalan kaki. Kalu nggak bisa jalan kaki bagaimana? Masa’ harus jalan tangan? Kan repot.” Kata Pak senen dengan nada bicara dan tawa ringan.

Aku bertanya,”Bagaimana perassaan bapak kalau melihat ada pemuda yang meminta-minata?”

“yah, saya sih cuman bisa bilang, nggak heran kalau Indonesia di bilang negara miskin. Bagaimana nggak miskin kalau manusaianya nggak mau usaha? Nggak akan bisa kalau nggak usaha. Malu kalau kita bilang ke orang-orang kalua kita miskin. Tapi jangan lupa, Doa juga penting. Orang yang nggak mau doa itu sombong. Yang penting itu usaha, Doa, dan jujur. Kalau itu dilakukan dengan serius, insyaallah bisa kita bebas dari kemiskinan.”

Begitulah Bapak Muhammad Senen. Dengan penuh kesederhanaan ia mejalani hidupnya. Dengan tawakal dan ikhtiar ia mencari nafkah yang halal. Rematik dan maag yang ia derita tidak menjadi halangan yang berarti. Sesekali aku melihanya berdagang koran di pasar kaget Gasibu tiap hari minggu. Walau ia seorang single parents ia sanggup menafkahkan kedua anaknya baik lahir maupun batin. Dengan keringat dan langkah kakinya ia mampu menjual lebih dari 100 eksmeplar koran tiap harinya. Sungguh nilai-nilai Islam ada dalam dirinya. Ternyata suritauladan juga ada DIBALIK TUMPUKAN KORAN.





Perkembangan Ekonomi Syariah Lambat???

25 05 2010

Perkembangan perbankan syariah di Indonesia ternyata masih saja dinilai lambat. Benarkah demikian adanya? Mengapa bisa seperi itu? Solusinya?

Ketika berbicara lambat tidaknya sesuatu, maka perlu sesuatu yang lain yang menjadi pembanding apakah ia lambat atau tidak. Dalam hal lambat tidaknya perkembangan perbankan syariah di Indonesia, maka perlu data lain yang sejenis yakni perkembangan  perbankan konvensional di Indonesia. Menurut data perbankan syariah tahun 2005 sampai dengan Februari 2010, diketahui bahwa total perkembangan  aset perbankan syariah di Indonesia tumbuh dari 20,880 milliar rupiah menjadi 68,543 milliar rupiah (gabungan BUS dan UUS) atau dengan kata lain ia tumbuh sebesar 228.27% (dihitung dengan baseline year 2005). Mari kita bandingkan dengan data perkembangan total aset bank umum konvensional, yang tumbuh dari  1469.827 milliar rupiah di tahun 2005 menjadi 2517.014 milliar rupiah per Februari 2010 atau dengan kata lain ia tumbuh sebesar 71.29% (dihitung dengan baseline year 2005). Jika membandingkan dua data diatas dapat diketahui bahwa perkembangan perbankan syariah dilihat dari total asetnya lebih tinggi dari perbankan pada umumnya, 228.27% lebih tinggi dari  71.29%. Jadi perbankan syariah di Indonesia justru cepat perkembangannya  karena ia dapat tumbuh lebih dari dua kali lipat hanya dalam tempo sekitar 6 tahun.

Diketahui pula bahwa sepanjang tahun 2009 saat krisis keuangan masih mengganjal, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 30%, hal ini lebih baik dari pembiayaan bank konvensional pada umumnya yang mengalami  pertumbuhan 13%. Di tahun 2010 perbankan syariah juga  akan semakin diramaikan oleh PT BCA Syariah dan PT Bank Victoria Syariah. Beberapa bank syariah lain juga segera hadir seperti PT BNI Syariah, BPD Jabar Banten Syariah, dan Maybank Indcorp. Di awal tahun 2010 ini DPK (dana piak ketiga) perbankan syariah bertambah dari 50.109  milliar rupiah menjadi 53.299 atau tumbuh 6.2% sedangkan DPK perbankan konvensional mengalami penurunan sebesar 0.8%

Namun perkembangan yang kian cepat dari perbankan syariah ini masih dirasakan lambat, walau pada kenyataannya justru perbankan syariah mengalami perkembangan yang luar biasa. Mengapa bisa terasa lambat?  Hal ini karena indikatornya terletak pada  marketshare perbankan syariah di Indonesia yang masih sekitar  3% dari total marketshare perbankan yang ada di Indonesia. Ya, dalam persoalan marketshare memang diakui bahwa perbankan syariah masih memilki porsi yang kecil dan hal ini pula yang membuat perbankan syariah terkesan lambat. Dalam beberapa tahun terakhir ditargetkan marketshare perbankan syariah di Indonesia bisa mencapai 5%, namun pada kenyataannya sampai saat ini belum tercapai.

Fakta menunjukan bahwa perbankan syariah kurang kompetitif di bandingkan dengan perbankan konvensional pada umumnya. Masyarakat berargumen Di bank syariah masih belum bisa ini dan itu… cabangnya pun masih belum tersebar luas di Indonesia… fasilitas perbank konvensional jauh lebih bagus… teknologi informasi bank syariah masih ketinggalan Tetapi pertanyaan adalah Bagaimana bisa bank syariah berkembang menjadi lebih baik dengan mengatasi segala keterbatasannya jika tidak didukung oleh masyarakat pada umumnya terutama masyarakat muslim? Perkembangan perbankan syariah di Indonesia seharusnya bisa lebih besar dan target marketshare 5% bisa dilewati.

Apa hal yang harus ada agar perkembangan perbankan syariah ini lebih besar? Jawabannya adalah semangat jamaah kaum muslimin di Indonesia. Mengapa semangat jamaah? Di atas sudah disebutkan bahwa Indonesia itu mayoritas penduduknya muslim, data tahun 2008 menunjukan bahwa 87% penduduk Indonesia beragama islam. Ini menjadi potensi tersendiri di Indonesia. Bila semangat jamaah ini sudah dimunculkan seluruh muslim akan bahu-membahu mendukung perkembangan perbankan syariah. Contoh dari semangat jamaah ini bisa dilihat dari India misalnya. Mereka menggunakan kendaraan produksi bangsanya sendiri walau kendaraan dari  luar negeri banyak yang kualitasnya lebih bagus. Tentu, hal ini berdampak positif pada industri tersebut sehingga dari waktu ke waktu akan menjadi berkembang ke arah yang lebih baik. Sekarang, beberapa kendaraan dari India sudah bisa menginfiltrasi pasar di Indonsia dan mereka bisa memperoleh hasil yang tidak bisa dibilang buruk. Jadi, terbukti memang ketika banyak yang mendukung sesuatu, sesuatu itu akan terus memperbaiki diri sehingga mencapai bentuk yang diharapkan oleh masyarakat.

Sama halnya dengan perbankan syariah, penulis berkeyakinan berbagai argument negative yang masih dirasakan oleh masyarakat akan hilang dikemudian hari jika masyarakatnya sendiri mau bank syariah berkembang ke arah yang lebih baik dengan mendukungnnya-menggunakan bank syariah dengan kata lain menabung serta menggunakan bank syariah untuk transasksi sehari-hari.

Semoga perbankan syariah didukung penuh oleh kaum  muslim yang mempnyai semangat jamaah. InsyaAllah ketika umat islam sudah bersatu akan membuahkan hasil yang gemilang.

Muhammad arriza Pasha_Manager of HRD








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.