Mengapa Ekonomi Islam?

12 08 2009

Mengapa Ekonomi Islam?¹
Oleh Mujahid²
Ini tidak hanya diawali dari adanya krisis ekonomi global yang tengah dialami oleh berbagai negara, tidak juga hanya berdasar pada adanya peluang dan prospek besar dari sisi bisnis dari ekonomi islam itu sendiri, tapi ini menyentuh landasan yang paling mendasar mengapa kita harus mengembangkan dan menerapkan ekonomi islam dalam kehidupan perekonomian kita. Pembahasan mengenai urgensi dan pentingnya ekonomi Islam untuk diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat muslim khususnya dan seluruh manusia pada umumnya, bisa didekati dari dua sudut pandang. Pertama, melalui pemahaman yang mendalam terhadap pengertian Islam dan kesempurnaan sistem Islam serta segenap konsekuensi-konsekuensi logisnya. Pendekatan ini ditempuh lewat “pembacaan” atas ayat-ayat yang tertera lewat Al-Quran dan sunah Rasul-Nya. Oleh karena pemahaman ini diambil dari sumber dan literatur orisinal Islam, kita sebut saja pendekatan tekstual atau literer. Kedua, melalui kritik terhadap fenomena-fenomena ketidakadilan, kemiskinan, kemerosotan nilai dan kesesatan motif yang terjadi dalam perekonomian akibat diberlakukannya sistem ekonomi non-Islam dengan segala macam dan bentuk turunannya. Karena pendekatan ini berangkat dari pemahaman atas fenomena, mari kita sebut saja pendekatan ini pendekatan kontekstual atau fenomenologis. Kita meyakini Islam tidak hanya sebagai seperangkat ibadah ritual, namun juga sebagai sebuah sistem hidup yang menyeluruh, sebagaimana Allah SWT berfirman
“…Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu…” (Q.S. Al-Maidah 3). Hal terkait dapat dilihat di Q.S. Al-Baqarah 208.

Prinsip-prinsip kesempurnaan dan universalitas Islam ini dirangkum oleh seorang mujahid dan mujadid besar abad 21, Hasan Al Banna dengan sebuah kalimat yang indah dan mengena, “Islam adalah sistem yang syamil (menyeluruh), yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak (moral) dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia juga adalah aqidah dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.”

Kesempurnaan Islam itu tentu saja mencakup wilayah ekonomi yang berurusan dengan bagaimana manusia mengatur hidupnya untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dalam ekonomi Islam, ada empat nilai utama yang menjadi sifat ekonomi Islam, yaitu: Rabbaniyah (Ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan dan Pertengahan. Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan dan keunikan yang utama, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh dan tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam.
Ekonomi Islam bersifat Rabbaniyah
Pertama, ekonomi Islam adalah ekonomi Rabbaniyah (ketuhanan), karena titik berangkatnya dari Allah, tujuannya mencari ridha Allah dan cara-caranya tidak bertentangan dengan syariat-Nya. Ini bisa dilihat di Q.S. Al-Mulk 15. Oleh karena itu, sesungguhnya semua aktivitas ekonomi manusia pada hakekatnya adalah pelaksanaan dari ketundukannya pada perintah Allah dan usaha untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah.
Kedua, ekonomi dalam pandangan Islam, bukanlah tujuan. Tetapi merupakan kebutuhan bagi manusia dan sarana yang lazim agar bisa hidup dan bekerja untuk mencapai tujuannya yang tinggi. Ekonomi merupakan sarana penunjang baginya dan menjadi pelayan bagi aqidah dan risalahnya. Aqidah adalah asas sistem Islam. Aqidah yang menyeluruh tentang alam, kehidupan dan manusia yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dan filosofis dalam diri manusia seperti: “dari mana manusia berasal”, “kemana tujuan hidupnya”, “untuk apa ia ada”, “dari mana datangnya alam yang luas ini”, “siapa yang mula-mula menciptakan alam semesta”, “kenapa kita mati” dan sebagainya. Ayat yang terkait dengan hal ini adalah (Q.S. Al-An’am 14)
Ketiga, sifat ekonomi Islam yang Rabbani adalah pengawasan internal atau hati nurani, yang ditumbuhkan oleh iman di dalam hati seorang muslim, dan menjadikan pengawas bagi dirinya. Oleh karena itulah, bagi seorang muslim “pengawas iman sebelum pengawas raja”. Dalam Q.S Al-Baqarah 188 Allah menyampaikan, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.”

Keempat, adanya konsep perwakilan (istikhlaf) dalam harta Allah. Sesungguhnya seluruh harta baik yang ada di langit dan di bumi, ada pada manusia maupun alam adalah kepunyaan Allah SWT. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. “(Thaha 6). Dengan kesadaran seperti itu, manusia tidak akan menjadi gila harta dan menjadi dermawan dengan harta yang dimilikinya.
Ekonomi Islam sangat memperhatikan Akhlak
Sesungguhnya Islam tidak pernah mengizinkan ummatnya untuk mendahulukan kepentingan ekonomi di atas pemeliharaan nilai-nilai dan keutamaan yang diajarkan agama. Seorang muslim –baik secara pribadi maupun bersama-sama– tidak bebas mengerjakan apa saja yang diinginkannya atau apa yang menguntungkan saja. Setiap muslim terikat pada setiap aktivitas ekonomi yang dilakukannya oleh iman (keyakinannya pada Allah dan hal yang gaib) dan akhlak (perilaku yang mulia), (lihat Q.S. An-Nuur 33).

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Q.S. Al-Maidah 90 – 91)

Ekonomi Islam berwawasan kemanusiaan
Menghargai kemanusiaan manusia adalah bagian dari prinsip Ilahiah yang telah memuliakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifah. Jika prinsip-prinsip ekonomi Islam berlandaskan kepada Al-Quran dan as-Sunnah, yang merupakan nash-nash Ilahiah, maka manusia adalah pihak yang mendapatkan arahan (mukhathah) dari nash-nash tersebut. Manusia berupaya mengusahakan terlaksananya nash-nash tersebut.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf 96)

Islam memperbolehkan manusia mengkonsumsi rezeki yang halal dan tidak memperbolehkan berlebih-lebihan dalam beragama seperti mengharamkan pernikahan dan mengharamkan memakan daging yang halal seperti agama Manuwiyah, agama Barmaniah, dan pendeta-pendeta agama Nasrani.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Q.S. Al-Maidah 87 – 88)

Ekonomi Islam adalah Ekonomi Pertengahan
Di antara nilai-nilai pokok dalam Islam adalah nilai pertengahan. Islam menyeimbangkan antara dunia dan akherat, antara individu dan masyarakat, akal dan hati, realita dan idealita, modal dan aktivitas, produksi dan konsumsi dan sebagainya. Keseimbangan Islam menyangkut berbagai bidang.
Pertama, keseimbangan dalam masalah harta.
Islam memandang bahwa harta adalah kebaikan, perhiasan hidup dan pilar kehidupan bagi manusia. Namun, Islam pun memandang harta sebagai firnah dan ujian bagi pribadi dan masyarakat. Oleh karena itu, kelebihan maupun kekurangan harta tidak menjadi indikator bagi mulia tidaknya seseorang dalam Islam.
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi 46), lihat juga Q.S. Al-Anfal 28.

Kedua, keseimbangan dalam kepemilikan dalam Islam.
Sesungguhnya Islam menempatkan aturan mengenai kepemilikan pada keseimbangan, tidak mengagungkan individual seperti kapitalisme dan juga tidak mematikan potensi individu melalui kepemilikan kolektif yang diwakili oleh negara sebagaimana dalam sistem komunis.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu….”(Q.S. An-Nisa 29)

Kesempurnaan Islam
Sebagai sebuah paket yang sempurna itulah, Islam sudah cukup sebagai pedoman manusia dalam menjalani hidup ini sehingga dapat meraih tujuannya yaitu meraih ridha Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Sedangkan berbagai isme, cara pandang dan dien (petunjuk) lainnya tidaklah sebanding dengan kesempurnaan Islam dalam memberikan arah (guidance) bagi manusia. Allah SWT berfirman

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci” (Ash-Shaff 9)

Itulah kemudian, setiap manusia muslim harus menjalankan prinsip dan praktik ekonomi Islam sebagai suatu bagian yang built in dalam sistem Islam yang sempurna. Jika hal ini dilakukan maka kaum muslimin akan menjadi model representatif dari kehendak-kehendak Allah SWT untuk menebar bunga hidayah dan rahmat bagi seluruh umat manusia, menciptakan taman kehidupan yang seimbang dimana setiap orang menemukan keamanan yang diciptakan oleh keadilan dan kenyamanan syang diciptakan oleh kemakmuran, dimana setiap orang merasakan kemudahan yang diciptakan ilmu pengetahuan dan harapan serta optimisme yang dilahirkan agama. Proyek peradaban ini bertujuan menciptakan taman kehidupan dimana bunga-bunga kebaikan, kebenaran, dan keindahan tumbuh bersemi. Dan taman itulah yang kelak menjadi saksi kemanusiaan dalam sejarah.

¹ Tulisan ini dirangkum dari seri materi kajian Pengantar Ekonomi Islam Islamic Studies of Economics Group (ISEG) Unpad
² Penulis adalah President ISEG Unpad 2009. Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Unpad Angkatan 2006.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: